MAKALAH
BAHASA INDONESIA
BERPIKIKIR
DEDUKTIF
Disusun
Oleh :
Muhammad
Naufal. A
16113042
3KA12
UNIVERSITAS
GUNADARMA
KATA
PENGANTAR
Puji syukur saya
panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan bimbinganNya
yang selalu menyertai saya dalam menyelesaikan penyusunan makalah “Berpikir
Deduktif” ini. Makalah ini saya susun berdasarkan tugas yang di berikan oleh
Ibu Rafiqa Maulida yang terhormat selaku dosen mata kuliah Softskill
Bahasa Indonesia 2. Tugas makalah ini
saya tunjukkan untuk saya dan mahasiswa/i yang belajar memahami “Penalaran”,
kemudian untuk Ibu Rafiqa Maulida selaku dosen pengajar.
Semoga makalah
ini bisa
bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya, penulis
menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna untuk itu
penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan kearah
kesempurnaan.
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Sebelum kita mebahas dan memahami lebih jauh mengenai penalaran
deduktif, timbul pertanyaan yang mendasar yang muncul di dalam benak kita “Mengapa kita mempelajari penalaran?”
Kita perlu memahami mengenai penalaran karena penalaran merupakan hal yang
sering kita gunakan sehari hari di dalam berkomunikasi atau berinteraksi satu
dengan yang lainya. Namun di dalam bahasan kali ini kita membahas penalaran
yang penggunaanya di gunakan di dalam Bahasa Indonesia.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut
dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi
(consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.
Kemampuan menalar menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang
merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya.
1.2 Tujuan Penulisan
Makalah ini disusun
supaya mahasiswa/i dapat memahami dan mengerti tentang penalaran berpikir
deduktif, dan bertujuan untuk memenuhi tugas bahasa Indonesia 2.
1.3 Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud
dengan penalaran berfikir deduktif?
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Definisi Penalaran
Penalaran adalah proses berpikir
yang bertolak dari pengamatan indera yang menghasilkan sejumlah konsep dan
pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan berbentuk
proposisi-proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui
atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya
tidak diketahui, proses inilah yang disebut menalar. Ada dua metode dalam
penalaran, yaitu deduktif dan induktif. Tapi dalam kesempatan ini, kami akan
membahas lebih dalam tentang penalaran deduktif.
Penalaran Deduktif adalah suatu penalaran
yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah
diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau
pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini
diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan
operasionalisasi.Penalaran Deduktif bisa disebut juga sebagai proses
penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang khusus
berdasarkan fakta-fakta yang bersifat umum. Proses penalaran ini disebut
Deduksi. Kesimpulan deduktif dibentuk dengan cara deduksi. Yaitu dimulai dari
hal-hal umum, mengarah kepada hal-hal yang khusus atau hal-hal yang lebih rendah.
2.
Berpikir Deduktif
Berfikir deduktif merupakan salah satu dari
metode-metode penalaran. Berfikir
Deduktif adalah suatu metode
berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya
dihubungkan dalam bagian-bagian yang khusus. Deduksi berasal dari bahasa
Inggris deduction yang berarti penarikan kesimpulan dari
keadaan-keadaan yang umum, menemukan yang khusus dari yang umum. Deduksi
adalah cara berpikir yang di tangkap atau di ambil dari pernyataan yang
bersifat umum lalu ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan
kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan
silogismus.
Dalam deduktif telah diketahui kebenarannya
secara umum, kemudian bergerak menuju pengetahuan baru tentang kasus-kasus atau
gejala-gejala khusus atau individual. Jadi deduksi adalah proses berfikir yang
bertolak dari sesuatu yang umum (prinsip, hukum, toeri, keyakinan) menuju hal
khusus. Berdasarkan sesuatu yang umum itu ditariklah kesimpulan tentang hal-hal
yang khusus yang merupakan bagian dari kasus atau peristiwa itu.
Hal
ini adalah suatu sistem penyusunan fakta yang telah diketahui sebelumnya guna
mencapai suatu kesimpulan yang logis. Dalam penalaran deduktif, dilakukan
melalui serangkaian pernyataan yang disebut silogisme dan terdiri atas beberapa
unsur yaitu:
1.
Dasar pemikiran utama (premis mayor)
2.
Dasar pemikiran kedua (premis minor)
3.
Kesimpulan
Contoh:
Premis
mayor :
Semua siswi SMA kelas 10 wajib mengikuti kegiatan OSPEK.
Premis
minor :
Aya adalah siswi kelas 10 SMA
Kesimpulan : Aya wajib mengikuti
kegiatan OSPEK
Contoh di atas merupakan bentuk penalaran
deduktif. proses penalaran itu berlangsung dalam tiga tahap. Pertama,
generalisasi sebagai pangkal tolak. Kedua, penerapan atau perincian
generalisasi melalui kasus tertentu. Ketiga, kesimpulan deduktif yang berlaku
bagi kasus khusus itu. Deduksi menggunakan silogisme dan entimem.
Dapat disimpulkan secara lebih spesifik bahwa
argumen berpikir deduktif dapat dibuktikan kebenarannya. Kebenaran konklusi
dalam argumen deduktif bergantung pada dua hal, yaitu kesahihan bentuk argumen
berdasarkan prinsip dan hukumnya; dan kebenaran isi premisnya berdasarkan
realitas. Sebuah argumen deduktif tetap dapat dikatakan benar berdasarkan
bentuknya, meskipun isinya tidak sesuai dengan realitas yang ada; atau isi
argumen deduktif benar menurut realitas meskipun secara bentuk ia tidak benar.
3. Macam-macam Penalaran
Deduktif
1.
Silogisme
Silogisme
adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun
dari dua proposi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Dengan fakta
lain bahwa silogisme adalah rangkaian 3 buah pendapat, yang terdiri dari 2
pendapat dan 1 kesimpulan.
Penalaran dalam bentuk
ini jarang ditemukan atau dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kita lebih
sering mengikuti polanya saja, meskipun kadang-kadang secara tidak sadar.
Misalnya ucapan “Ia dihukum karena melanggar peraturan X”, sebenarnya dapat
kita kembalikan ke dalam bentuk formal berikut:
A. Barang siapa melanggar peraturan X harus
dihukum.
B. Ia melanggar peraturan X.
C. la harus dihukum.
Bentuk seperti itulah
yang disebut silogisme. Kalimat pertama (premis mayor) dan kalimat kedua
(premis minor) merupakan pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan (kalimat
ketiga).
Pada contoh, kita lihat
bahwa ungkapan “melanggar …” pada premis (mayor) diulangi
dalam (premis minor). Demikian pula ungkapan “harus dihukum” di
dalam kesimpulan. Hal itu terjadi pada bentuk silogisme yang standar.
Akan tetapi, kerap kali
terjadi bahwa silogisme itu tidak mengikuti bentuk standar seperti itu.
Misalnya:
Semua yang dihukum itu
karena melanggar peraturan.
Kita selalu mematuhi
peraturan.
Kita tidak perlu cemas
bahwa kita akan dihukum.
Pernyataan itu dapat
dikembalikan menjadi:
a.
Semua yang melanggar peraturan harus dihukum.
b.
Kita tidak pernah melanggar (selalu mematuhi) peraturan.
c.
Kita tidak dihukum.
Secara singkat
silogisme dapat dituliskan Jika A=B dan B=C maka A=C. Silogisme terdiri dari; Silogisme
Kategorial, Silogisme Hipotetis dan Silogisme Disyungtif.
a)
Silogisme
Kategorial
Silogisme Katagorial adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan
katagorial. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang
kemudian dapat dibedakan dengan premis mayor (premis yang termnya menjadi
predikat), dan premis minor (premis yang termnya menjadi subjek). Yang
menghubungkan diantara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle
term).
Contoh :
Semua Tanaman membutuhkan air (premis mayor)
……………M……………...P
Akasia adalah Tanaman (premis minor)
….S……………..M
Akasia membutuhkan air (konklusi)
….S……………..P
(S = Subjek, P = Predikat, dan M = Middle term)
Hukum-hukum
Silogisme Kategorial
1.
Apabila dalam satu premis partikular, kesimpulan harus
partikular juga, seperti:
Semua yang halal dimakan menyehatkan
Sebagian makanan tidak menyehatkan,
Jadi Sebagian makanan tidak halal dimakan
(Kesimpulan tidak boleh: Semua makanan tidak halal dimakan).
2.
Apabila salah satu premis negatif, kesimpulan harus negatif
juga, seperti:
Semua korupsi tidak disenangi.
Sebagian pejabat adalah korupsi, jadi
Sebagian pejabat tidak disenangi.
(Kesimpulan tidak boleh: Sebagian pejabat disenangi)
a.
Dari dua premis yang sama-sama negatit, tidak mendapat
kesimpulan apa pun, karena tidak ada mata rantai yang menghubungkan kedua
proposisi premisnya. Kesimpulan diambil bila sedikitnya salah satu premisnya
positif. Kesimpulan yang ditarik dari dua premis negatif adalah tidak
sah.
Kerbau
bukan bunga mawar.
Kucing
bukan bunga mawar.
(Tidak ada kesimpulan)
Tidak satu
pun drama yang baik mudah dipertunjukan.
Tidak satu
pun drama Shakespeare mudah dipertunjukan.
Jadi: Semua drama Shakespeare adalah baik. (Kesimpulan tidak sah)
b.
Paling tidak salah satu dari term penengah haru:
(mencakup). Dari dua premis yang term penengahnya tidak menghasilkan kesimpulan
yang salah, seperti:
Semua ikan
berdarah dingin.
Binatang
ini berdarah dingin.
Jadi: Binatang ini adalah ikan.
(Padahal bisa juga binatang melata)
c.
Term-predikat dalam kesimpulan harus konsisten dengan term
predikat yang ada pada premisnya. Bila tidak, kesimpulan menjadi salah,
seperti:
Kerbau
adalah binatang.
Kambing
bukan kerbau.
Jadi: Kambing bukan binatang.
(‘Binatang’ pada konklusi merupakan term negatif sedangkan
pada premis adalah positif)
d.
Term penengah harus bermakna sama, baik dalam premis mayor
maupun premis minor. Bila term penengah bermakna ganda, maka kesimpulan menjadi
lain, seperti:
Bulan itu
bersinar di langit.
Januari
adalah bulan.
Jadi: Januari bersinar di langit.
(Bulan pada premis minor adalah nama dari ukuran
waktu yang panjangnya 31 hari, sedangkan pada premis mayor berarti
planet yang mengelilingi bumi).
e. Silogisme harus
terdiri tiga term, yaitu term subjek, preidkat, dan term menengah
(middle term), begitu juga jika terdiri dari dua atau lebih dari tiga term
tidak bisa diturunkan konklusinya.
b) Silogisme Hipotesis
Silogisme Hipotetis adalah argumen yang premis mayornya berupa
proposisi hipotetis, sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorial.
Ada 4 (empat) macam tipe silogisme hipotetis :
1.
Silogisme hipotetis yang premis minornya mengakui bagian
antecedent, seperti:
Jika hujan, saya naik becak.
Sekarang hujan.
Jadi, saya naik becak.
2.
Silogisme hipotetis yang premis minornya mengakui bagiar
konsekuennya, seperti:
Bila hujan, bumi akan basah.
Sekarang bumi telah basah.
Jadi, hujan telah turun.
3.
Silogisme hipotetis yang premis minornya mengingkari
antecedent, seperti:
Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka
kegelisahan akan timbul.
Politik pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa,
Jadi kegelisahan tidak akan timbul.
4.
Silogisme hipotetis yang premis minornya mengingkari bagian
konsekuennya, seperti:
Bila mahasiswa turun ke jalanan, pihak penguasa akan
gelisah.
Pihak penguasa tidak gelisah.
Jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan.
Hukum-hukum
Silogisme Hipotetis
Mengambil konklusi dari silogisme hipotetis jauh lebih mudah dibanding
dengan silogisme kategorial. Tetapi yang penting di sini dalah menentukan
kebenaran konklusinya bila premis-premisnya merupakan pernyataan yang benar.
Bila antecedent kita lambangkan
dengan A dan konsekuen dengan B, jadwal hukum silogisme hipotetis adalah:
1) Bila A
terlaksana maka B juga terlaksana.
2) Bila A
tidak terlaksana maka B tidak terlaksana. (tidak sah = salah)
3) Bila B
terlaksana, maka A terlaksana. (tidak sah = salah)
4) Bila B
tidak terlaksana maka A tidak terlaksana.
Kebenaran hukum di atas menjadi jelas dengan penyelidikan.
c) Silogisme Disyungtif
Silogisme Disyungtif adalah silogisme yang premis mayornya merupakan
keputusan disyungtif sedangkan premis minornya merupakan keputusan kategorial
yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut oleh premis
mayor. Seperti pada silogisme hipotetis istilah premis mayor dan premis minor
adalah secara analog bukan yang semestinya.
Silogisme ini ada dua macam, silogisme disyungtif dalam arti
sempit dansilogisme disyungtif dalam arti luas.
a. Silogisme
disyungtif dalam arti sempit mayornya mempunyai alternatif kontradiktif,
seperti:
la lulus atau tidak lulus.
Ternyata ia lulus, jadi
la bukan tidak lulus.
b. Silogisme
disyungtif dalam arti luas premis mayomya mempunyai alternatif bukan
kontradiktif, seperti:
Hasan di rumah atau di pasar.
Ternyata tidak di rumah.
Jadi di pasar.
Silogisme disyungtif dalam arti sempit maupun arti luas mempunyai dua
tipe yaitu:
1) Premis
minornya mengingkari salah satu alternatif, konklusi-nya adalah mengakui
alternatif yang lain, seperti:
la berada di luar atau di
dalam. Ia
berada di luar atau di dalam.
Ternyata tidak berada di
luar. Ternyata
tidak berada di dalam.
Jadi ia berada di
dalam. Jadi
ia berada di luar.
2) Premis
minor mengakui salah satu alternatif, kesimpulannya adalah mengingkari
alternatif yang lain, seperti:
Budi di masjid atau di
sekolah. Budi
di masjid atau di sekolah.
la berada di
masjid. Ia
berada di sekolah.
Jadi ia tidak berada di
sekolah. Jadi
ia tidak berada di masjid.
Hukum-hukum
Silogisme Disyungtif
1.
Silogisme disyungtif dalam arti sempit, konklusi yang
dihasilkan selalu benar, apabila prosedur penyimpulannya valid, seperti :
2. Silogisme disyungtif dalam
arti luas, kebenaran koi adalah sebagai berikut:
a. Bila premis minor
mengakui salah satu alterna konklusinya sah (benar), seperti:
Budi menjadi guru atau
pelaut. Budi
menjadi guru atau pelaut.
la adalah
guru. Ia
adalah pelaut.
Jadi ia bukan
pelaut. Jadi
ia buka guru.
2. Entimen
Entimen adalah penalaran deduksi secara
langsung. Dan dapat dikatakan pula silogisme premisnya dihilangkan atau tidak
diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
