Selasa, 15 Maret 2016

MAKALAH BAHASA INDONESIA

BERPIKIKIR DEDUKTIF







Disusun Oleh :
Muhammad Naufal. A
16113042
3KA12

UNIVERSITAS GUNADARMA






KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan bimbinganNya yang selalu menyertai saya dalam menyelesaikan penyusunan makalah “Berpikir Deduktif” ini. Makalah ini saya susun berdasarkan tugas yang di berikan oleh Ibu Rafiqa Maulida yang terhormat selaku dosen mata kuliah Softskill Bahasa  Indonesia 2. Tugas makalah ini saya tunjukkan untuk saya dan mahasiswa/i yang belajar memahami “Penalaran”, kemudian untuk Ibu Rafiqa Maulida selaku dosen pengajar.

Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya, penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna untuk itu penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan kearah kesempurnaan.


















BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Sebelum kita mebahas dan memahami lebih jauh mengenai penalaran deduktif, timbul pertanyaan yang mendasar yang muncul di dalam benak kita “Mengapa kita mempelajari penalaran?” Kita perlu memahami mengenai penalaran karena penalaran merupakan hal yang sering kita gunakan sehari hari di dalam berkomunikasi atau berinteraksi satu dengan yang lainya. Namun di dalam bahasan kali ini kita membahas penalaran yang penggunaanya di gunakan di dalam Bahasa Indonesia.

 

Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi. Kemampuan menalar menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya.

 

 

1.2  Tujuan Penulisan

 

Makalah ini disusun supaya mahasiswa/i dapat memahami dan mengerti tentang penalaran berpikir deduktif, dan bertujuan untuk memenuhi tugas bahasa Indonesia 2.

 

1.3  Rumusan Masalah

 

Apa yang dimaksud dengan penalaran berfikir deduktif?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

 

 

PEMBAHASAN

 

1.      Definisi Penalaran

 

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan berbentuk proposisi-proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui, proses inilah yang disebut menalar. Ada dua metode dalam penalaran, yaitu deduktif dan induktif. Tapi dalam kesempatan ini, kami akan membahas lebih dalam tentang penalaran deduktif.

 

Penalaran Deduktif adalah suatu penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi.Penalaran Deduktif bisa disebut juga sebagai proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang khusus berdasarkan fakta-fakta yang bersifat umum. Proses penalaran ini disebut Deduksi. Kesimpulan deduktif dibentuk dengan cara deduksi. Yaitu dimulai dari hal-hal umum, mengarah kepada hal-hal yang khusus atau hal-hal yang lebih rendah.

 

2.      Berpikir Deduktif

 

Berfikir deduktif merupakan salah satu dari metode-metode penalaran. Berfikir Deduktif adalah suatu metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagian yang khusus. Deduksi berasal dari bahasa Inggris deduction yang berarti penarikan kesimpulan dari keadaan-keadaan yang umum, menemukan yang khusus dari yang umum. Deduksi adalah cara berpikir yang di tangkap atau di ambil dari pernyataan yang bersifat umum lalu ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus.

Dalam deduktif telah diketahui kebenarannya secara umum, kemudian bergerak menuju pengetahuan baru tentang kasus-kasus atau gejala-gejala khusus atau individual. Jadi deduksi adalah proses berfikir yang bertolak dari sesuatu yang umum (prinsip, hukum, toeri, keyakinan) menuju hal khusus. Berdasarkan sesuatu yang umum itu ditariklah kesimpulan tentang hal-hal yang khusus yang merupakan bagian dari kasus atau peristiwa itu.
Hal ini adalah suatu sistem penyusunan fakta yang telah diketahui sebelumnya guna mencapai suatu kesimpulan yang logis. Dalam penalaran deduktif, dilakukan melalui serangkaian pernyataan yang disebut silogisme dan terdiri atas beberapa unsur yaitu:
1. Dasar pemikiran utama (premis mayor)
2. Dasar pemikiran kedua (premis minor)
3. Kesimpulan
Contoh:
Premis mayor : Semua siswi SMA kelas 10 wajib mengikuti kegiatan OSPEK.
Premis minor  : Aya adalah siswi kelas 10 SMA
Kesimpulan    : Aya wajib mengikuti kegiatan OSPEK
Contoh di atas merupakan bentuk penalaran deduktif. proses penalaran itu berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, generalisasi sebagai pangkal tolak. Kedua, penerapan atau perincian generalisasi melalui kasus tertentu. Ketiga, kesimpulan deduktif yang berlaku bagi kasus khusus itu. Deduksi menggunakan silogisme dan entimem.
Dapat disimpulkan secara lebih spesifik bahwa argumen berpikir deduktif dapat dibuktikan kebenarannya. Kebenaran konklusi dalam argumen deduktif bergantung pada dua hal, yaitu kesahihan bentuk argumen berdasarkan prinsip dan hukumnya; dan kebenaran isi premisnya berdasarkan realitas. Sebuah argumen deduktif tetap dapat dikatakan benar berdasarkan bentuknya, meskipun isinya tidak sesuai dengan realitas yang ada; atau isi argumen deduktif benar menurut realitas meskipun secara bentuk ia tidak benar.

3.      Macam-macam Penalaran Deduktif

1.      Silogisme

Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Dengan fakta lain bahwa silogisme adalah rangkaian 3 buah pendapat, yang terdiri dari 2 pendapat dan 1 kesimpulan.

Penalaran dalam bentuk ini jarang ditemukan atau dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kita lebih sering mengikuti polanya saja, meskipun kadang-kadang secara tidak sadar. Misalnya ucapan “Ia dihukum karena melanggar peraturan X”, sebenarnya dapat kita kembalikan ke dalam bentuk formal berikut:

A. Barang siapa melanggar peraturan X harus dihukum.

B. Ia melanggar peraturan X.

C. la harus dihukum.

 

Bentuk seperti itulah yang disebut silogisme. Kalimat pertama (premis mayor) dan kalimat kedua (premis minor) merupakan pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan (kalimat ketiga).

Pada contoh, kita lihat bahwa ungkapan “melanggar …” pada premis (mayor) diulangi dalam (premis minor). Demikian pula ungkapan “harus dihukum” di dalam kesimpulan. Hal itu terjadi pada bentuk silogisme yang standar.

Akan tetapi, kerap kali terjadi bahwa silogisme itu tidak mengikuti bentuk standar seperti itu. Misalnya:

Semua yang dihukum itu karena melanggar peraturan.

Kita selalu mematuhi peraturan.

Kita tidak perlu cemas bahwa kita akan dihukum.

Pernyataan itu dapat dikembalikan menjadi:

a. Semua yang melanggar peraturan harus dihukum.

b. Kita tidak pernah melanggar (selalu mematuhi) peraturan.

c. Kita tidak dihukum.

Secara singkat silogisme dapat dituliskan Jika A=B dan B=C maka A=C. Silogisme terdiri dari; Silogisme Kategorial, Silogisme Hipotetis dan Silogisme Disyungtif.

 

a)                Silogisme Kategorial

 

Silogisme Katagorial adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan katagorial. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan dengan premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor (premis yang termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan diantara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term).

Contoh :

Semua Tanaman membutuhkan air (premis mayor)

……………M……………...P

Akasia adalah Tanaman (premis minor)

….S……………..M
Akasia membutuhkan air (konklusi)

….S……………..P
(S = Subjek, P = Predikat, dan M = Middle term)

 

      Hukum-hukum Silogisme Kategorial

 

1.      Apabila dalam satu premis partikular, kesimpulan harus partikular juga, seperti:

 

Semua yang halal dimakan menyehatkan

Sebagian makanan tidak menyehatkan,

Jadi Sebagian makanan tidak halal dimakan

(Kesimpulan tidak boleh: Semua makanan tidak halal dimakan).

 

2.      Apabila salah satu premis negatif, kesimpulan harus negatif juga, seperti:

 

Semua korupsi tidak disenangi.

Sebagian pejabat adalah korupsi, jadi

Sebagian pejabat tidak disenangi.

(Kesimpulan tidak boleh: Sebagian pejabat disenangi)

 

a.       Dari dua premis yang sama-sama negatit, tidak mendapat kesimpulan apa pun, karena tidak ada mata rantai yang menghubungkan kedua proposisi premisnya. Kesimpulan diambil bila sedikitnya salah satu premisnya positif. Kesimpulan yang ditarik dari dua premis negatif adalah tidak sah.

 

Kerbau bukan bunga mawar.

Kucing bukan bunga mawar.

(Tidak ada kesimpulan)

Tidak satu pun drama yang baik mudah dipertunjukan.

Tidak satu pun drama Shakespeare mudah dipertunjukan.

Jadi: Semua drama Shakespeare adalah baik. (Kesimpulan tidak sah)

 

b.      Paling tidak salah satu dari term penengah haru: (mencakup). Dari dua premis yang term penengahnya tidak menghasilkan kesimpulan yang salah, seperti:

 

Semua ikan berdarah dingin.

Binatang ini berdarah dingin.

Jadi: Binatang ini adalah ikan.

(Padahal bisa juga binatang melata)

 

c.       Term-predikat dalam kesimpulan harus konsisten dengan term predikat yang ada pada premisnya. Bila tidak, kesimpulan menjadi salah, seperti:

 

Kerbau adalah binatang.

Kambing bukan kerbau.

Jadi: Kambing bukan binatang.

(‘Binatang’ pada konklusi merupakan term negatif sedangkan pada premis adalah positif)

 

d.      Term penengah harus bermakna sama, baik dalam premis mayor maupun premis minor. Bila term penengah bermakna ganda, maka kesimpulan menjadi lain, seperti:

 

Bulan itu bersinar di langit.

Januari adalah bulan.

Jadi: Januari bersinar di langit.

(Bulan pada premis minor adalah nama dari ukuran waktu yang panjangnya 31 hari, sedangkan pada premis mayor berarti planet yang mengelilingi bumi).

 

e.    Silogisme harus terdiri tiga term, yaitu term subjek, preidkat, dan term menengah (middle term), begitu juga jika terdiri dari dua atau lebih dari tiga term tidak bisa diturunkan konklusinya.

 

b)        Silogisme Hipotesis

Silogisme Hipotetis adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetis, sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorial.

Ada 4 (empat) macam tipe silogisme hipotetis :

 

1.            Silogisme hipotetis yang premis minornya mengakui bagian antecedent, seperti:

 

Jika hujan, saya naik becak.

Sekarang hujan.

Jadi, saya naik becak.

 

2.            Silogisme hipotetis yang premis minornya mengakui bagiar konsekuennya, seperti:

 

Bila hujan, bumi akan basah.

Sekarang bumi telah basah.

Jadi, hujan telah turun.

 

3.            Silogisme hipotetis yang premis minornya mengingkari antecedent, seperti:

 

Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka

kegelisahan akan timbul.

Politik pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa,

Jadi kegelisahan tidak akan timbul.

 

4.            Silogisme hipotetis yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya, seperti:

 

Bila mahasiswa turun ke jalanan, pihak penguasa akan gelisah.

Pihak penguasa tidak gelisah.

Jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan.

 

      Hukum-hukum Silogisme Hipotetis

 

Mengambil konklusi dari silogisme hipotetis jauh lebih mudah dibanding dengan silogisme kategorial. Tetapi yang penting di sini dalah menentukan kebenaran konklusinya bila premis-premisnya merupakan pernyataan yang benar.

 

Bila antecedent kita lambangkan dengan A dan konsekuen dengan B, jadwal hukum silogisme hipotetis adalah:

 

1)      Bila A terlaksana maka B juga terlaksana.

2)      Bila A tidak terlaksana maka B tidak terlaksana. (tidak sah = salah)

3)      Bila B terlaksana, maka A terlaksana. (tidak sah = salah)

4)      Bila B tidak terlaksana maka A tidak terlaksana.

Kebenaran hukum di atas menjadi jelas dengan penyelidikan.

 

c)         Silogisme Disyungtif

Silogisme Disyungtif adalah silogisme yang premis mayornya merupakan keputusan disyungtif sedangkan premis minornya merupakan keputusan kategorial yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut oleh premis mayor. Seperti pada silogisme hipotetis istilah premis mayor dan premis minor adalah secara analog bukan yang semestinya.

Silogisme ini ada dua macam, silogisme disyungtif dalam arti sempit dansilogisme disyungtif dalam arti luas.

 

a.       Silogisme disyungtif dalam arti sempit mayornya mempunyai alternatif kontradiktif, seperti:

la lulus atau tidak lulus.

Ternyata ia lulus, jadi

la bukan tidak lulus.

 

b.      Silogisme disyungtif dalam arti luas premis mayomya mempunyai alternatif bukan kontradiktif, seperti:

Hasan di rumah atau di pasar.

Ternyata tidak di rumah.

Jadi di pasar.

 

Silogisme disyungtif dalam arti sempit maupun arti luas mempunyai dua tipe yaitu:

 

1)      Premis minornya mengingkari salah satu alternatif, konklusi-nya adalah mengakui alternatif yang lain, seperti:

la berada di luar atau di dalam.                    Ia berada di luar atau di dalam.

Ternyata tidak berada di luar.                       Ternyata tidak berada di dalam.

Jadi ia berada di dalam.                                Jadi ia berada di luar.

 

2)      Premis minor mengakui salah satu alternatif, kesimpulannya adalah mengingkari alternatif yang lain, seperti:

Budi di masjid atau di sekolah.                      Budi di masjid atau di sekolah.

la berada di masjid.                                       Ia berada di sekolah.

Jadi ia tidak berada di sekolah.                     Jadi ia tidak berada di masjid.

 

      Hukum-hukum Silogisme Disyungtif

 

1.      Silogisme disyungtif dalam arti sempit, konklusi yang dihasilkan selalu benar, apabila prosedur penyimpulannya valid, seperti :

 

2.   Silogisme disyungtif dalam arti luas, kebenaran koi adalah sebagai berikut:

 

a.    Bila premis minor mengakui salah satu alterna konklusinya sah (benar), seperti:

 

Budi menjadi guru atau pelaut.              Budi menjadi guru atau pelaut.

la adalah guru.                                       Ia adalah pelaut.

Jadi ia bukan pelaut.                              Jadi ia buka guru.

 

 

 

 

2.      Entimen

Entimen adalah penalaran deduksi secara langsung. Dan dapat dikatakan pula silogisme premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.

Entimen merupakan silogisme yang salah satu proposisinya dihilangkan tetapi proposisi tersebut dianggap ada dalam pikiran dan dianggap oleh orang lain. Entimen pada dasarnya adalah silogisme.

 

Contoh :

Premis mayor (MY):        manusia mahluk rasional

Premis minor (MN):         kucing bukan manusia

Kesimpulan (K):               kucing tidak rasional

 

Premis mayor (MY):        setiap manusia pernah lupa

Premis minor (MN):         mahasiswa adalah manusia

Kesimpulan (K):               mahasiswa pernah lupa

 

Dapat diuraikan sebagai berikut :

 

a.       Silogisme merupakan bentuk penalaran deduktif yang formal.

b.      Proses penalaran dimulai dari premis mayor melalui premis minor sampai pada kesimpulan.

c.       Strukturnya tetap: premis mayor, premis minor, kesimpulan.

d.      Premis mayor berisi pernyataan umum.

e.       Premis minor berisi pernyataan yang lebih khusus yang merupakan bagian premis mayor.

f.       Kesimpulan dalam silogisme selalu lebih khusus daripada premisnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

 

PENUTUP

 

3.1  Kesimpulan

 

Dari hasil makalah tentang penalaran berpikir deduktif dan macam-macamnya dapat disimpulkan bahwa banyak sekali yang dapat kita pelajari dari macam-macam penalaran berpikir deduktif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

Deduktif.http://shellapaditadharma.blogspot.com/2012/10/penalaran-deduktif.html. Diakses pada tanggal 11 Maret 2013

 

Nopi, D. 2010., Penalaran Deduktif. http://nopi-dayat.blogspot.com/2010/03/penalaran-deduktif.html. Diakses pada tanggal 11 Maret 2013

 

Anggara, B. 2011., Penalaran Deduktif Dan Induktif.http://ghoo.blog.com/2011/10/01/penalaran-deduktif-dan-induktif/. Diakses pada tanggal 11 Maret 2013

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar